Ketika “Permasalahan Kecil” Terabaikan

Jalan rusak, salah siapa? Satu pertanyaan yang terlintas dalam pemikiran kami saat melintas di koridor Jalan Bunga Coklat Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Apakah ini salah pemerintah? salah pengguna jalan? Atau salah warga sekitar? Ketika pembangunan gedung bertingkat semakin berkembang namun tidak diimbangi dengan penambahan kualitas ruas jalan. Mungkin permasalahan “bunga coklat” ini adalah contoh kecil dari permasalahan jalan lainnya.
Jalan merupakan suatu prasarana penting yang mendukung perkembangan suatu kota. Jika jalan tidak dikelola dengan baik, maka perkembangan suatu kota menjadi terhambat. Selain itu, jalan berfungsi sebagai penghubung antara kawasan satu dengan yang lainnya.
            Sering kita jumpai kerusakan jalan pada suatu ruas jalan, seperti jalan yang berlubang, jalan yang bergelombang, retakan pada jalan, dan sebagainya. Jalan Bunga Coklat merupakan salah satu contohnya. Bisa kita lihat pada beberapa titik ruas jalannya, terdapat permasalahan kecil namun kurang diperhatikan yang apabila dibiarkan terus-menerus akan menimbulkan permasalahan yang lebih besar, seperti hilangnya Solar Road Stud atau lebih dikenal dengan paku marka dan gundukan yang berupa saluran telepon.
Paku marka merupakan salah satu pelengkap jalan yang terdapat pada jalan. Paku jalan memiliki fungsi mempermudah pengelihatan pengguna jalan pada malam hari, sehingga apabila terjadi kerusakan atau hilangnya akan sangat berdampak terhadap pengguna jalan. Di jalan Bunga Coklat, paku marka sempat hilang antah berantah sehingga menyebabkan terbentuknya lubang bekas paku marka tersebut. Sekarang, paku marka sudah dipasang kembali, tetapi tidak menutup kemungkinan paku marka tersebut akan lepas kempabli. Jika dibiarkan terus menerus, maka pada lubang tersebut akan terbentuk genangan air pada saat hujan. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap kandungan aspal sehingga lubang yang awalnya “seukuran” paku marka akan semakin membesar jika dibiarkan terus menerus saat paku marka lepas.
 

Gambar Paku Marka (atas : tampak atas, bawah : tampak samping)
       Sumber : Survey primer
            Selain permasalahan terkait paku marka tersebut, ada pula permasalahan lain di ruas jalan Bunga Coklat yaitu gundukan besar yang disebabkan oleh sambungan telepon yang dibangun dibawah jalan. Sambungan ini memakan setengah jalur jalan.

                                           Gambar Sambungan Telepon
                                                         Sumber : Survey primer
Didalam sambungan ini, terdapat terowongan bawah jalan untuk sambungan saluran telepon. “Dulunya gundukan itu lebih besar, didalamnya ada itu lho mas, kabel jaringan telepon dari Telkom, ada terowongan juga di dalamnya mas” ujar pak Budiharto yang didepan rumahnya terdapat gundukan saluran telepon tersebut. Pak Budiharto sempat melaporkan kejadian tersebut, namun belum ada tanggapan dari pihak Telkom. “Gundukan itu sangat menganggu, bahkan dulu sempat memakan korban mahasiswa yang nyawanya sampai tak terselamatkan” tambahnya. Akibat gundukan jalan itu, pengguna jalan menjadi tidak leluasa menggunakan jalan dan terkadang lebih memilih untuk menghindari gundukan tersebut.

 Kedua contoh tersebut, hanyalah contoh kecil permasalahan di Jalan Bunga Coklat namun kurang ditanggapi serius baik dari pemerintah, pengguna jalan maupun masyarakat sekitar. Sudah selayaknya pemerintah juga memperhatikan permasalahan kecil yang kedapannya dapat berakibat fatal, tidak hanya terfokus pada permasalahan yang saat ini selalu menjadi sorotan publik. Dari sisi masyarakat sekitar, pentingmya untuk menjaga pelengkap jalan sehingga permasalahan “hilangnya” paku marka ini tidak  semakin merajalela.

Oleh Kelompok 2:
1. Rendy Andrian (125060600111041)
2. Kiki Eva Permatasari (125060600111054)
3. Hafidz Firzatullah (125060600111070)
4. Rahma Salasati (125060606111001)
5. Rizky Amanda (125060607111010)
6. Briantama Maulana (125060607111019)

Dipostkan Oleh: Mahasiswa PWK FT-UB






















0 Comments:

Post a Comment





Copyright 2014| Blogger Templates by Hadi Abdurrahman.
Ruang Kota Rumah Kita Mahasiswa Perencana.